BookMatter – Top 10 Book TurnOff by AndiItta

andi-ittas-fantasy

Halo. Perkenalkan buku di atas. “The Hunger Games” karya Suzanne Collins. Buku tersebut memiliki makna yang mendalam bagi saya karena buku itu adalah novel pertama yang saya miliki. Sebagai seorang pembaca yang belum berpengalaman pada waktu itu , (memangnya sekarang sudah berpengalaman ya?) saya belum mengenal istilah merawat buku. Alhasil, jadilah buku itu hancur sehancur-hancurnya.

Dear reader, mungkin ada saat dalam perjalanan membacamu kamu malas membaca sebuah buku. Selain dari alurnya yang membosankan, saya merangkum beberapa hal yang bisa menjadi penyebab kamu (mungkin hanya saya) ‘mematikan’ bukunya atau dalam postingan ini saya sebut Book TurnOff. (baca lebih simple : menutup buku)

Kondisi-kondisi berikut berdasarkan pengalaman pribadi  biasanya menyebabkan saya ingin menutup buku. Bukan salah bukunya, tetapi beberapa hal serampangan lainnya. Selamat membaca!

1

Selamat, kamu saya nyatakan salah satu orang yang paling tabah kalau mau membaca buku yang lembarannya terpisah-pisah seperti gambar itu. Itulah bagian dalam buku The Hunger Games saya. Kombinasi antara perekat yang sudah tidak mumpuni dan cara membaca yang tidak benar.

Bayangkan kamu yang seharusnya membaca dengan tenang dibuat pusing dengan lembaran yang lepas di sana dan di sini. Mau buka halaman selanjutnya juga ragu-ragu karena siapa tahu ada lembaran yang hilang jadinya cliffhanger yang tidak diinginkan. Mau cek satu per satu juga malas. Solusinya kalau tidak malas kamu bisa merekatkan kembali, memakai paku buku, atau untuk pekerjaan ekstra tarik satu per satu lembaran lepas yang ingin kamu baca, setelah itu pastikan mereka kembali ke tempat semula.

2

Aduh… Aduh… Gelisah memikirkan lembarannya akan lepas. Takut kalau lapisan tipis yang menyangga buku itu akan robek dan bukunya terbelah dua, tentu saja membaca jadi tidak nyaman.

solusinya? Kamu harus membaca dengan benar. Ada dua kondisi yang menyebabkan buku bisa mengalami patah tulang. Yang pertama karena memang ‘dari sananya’ (dibaca : pabrik) buku itu memiliki punggung yang mudah patah. Kalau kasus pertama yang terjadi, kamu harus tabah tidak leluasa membacanya kalau ingin menjaga punggung itu agar tidak patah.

Tetapi, apabila menghadapi kondisi kedua, yaitu salah cara membaca, hal ini bisa dihindari dan bisa dicegah. Kondisinya yaitu : patah punggung karena perbuatanmu! Ya! Perbuatanmu! Apabila kamu seorang pembaca yang suka menggulung buku saat membacanya, tolong hentikan! Kasihan bukunya! (kata kunci : jangan, gulung, buku)

3

Saya hanya bisa memasang muka datar menghadapi keadaan ini. Seperti kita, buku juga bisa dimakan usia. Siapa yang tahu makhluk apa saja yang bisa hinggap dan tinggal di buku tuamu? Tapi untuk masalah tuanya sepertinya bisa di tolerir. Kamu bisa merawat kondisi buku dengan tidak membiarkannya terkena sinar matahari langsung, jauhkan dari tempat lembab, dsb. Selamat berusaha menjaga bukunya!

4

Bayangkan : Pada suatu hari kamu membeli sebuah buku. Perlahan-lahan kamu buka segel pelastiknya, menyentuh setiap lembarannya, mencium bau khas dari buku baru, dan tiba-tiba sesuatu melintas di pikiranmu.

“Sepertinya ada yang kurang.” kamu menatap buku itu baik-baik mencari-cari di setiap lembarannya siapa tahu ada yang terselip tapi tidak ada. Buku itu tidak menyediakan bookmark di dalamnya. Mengambil bookmark dari buku lain rasanya tidak enak, maka kamu menggunakan benda lain. Contohnya amplop.

Mungkin pihak penerbit mencoba berpikir ekonomis dengan tidak menyediakan bookmark untuk buku itu. Hentikan kekecewaan, temui mbah Google, cari tema yang sesuai dengan buku di pencarian gambar, print sendiri. Masalah terselesaikan.

5

Pada suatu waktu, saya membeli dua buku karena tergiur diskon. Yaitu buku pertama dan ketiga dari sebuah trilogi. Kebetulan, buku keduanya tidak tersedia dan statusnya langka. Terlalu banyak hal yang akan terlewatkan ketika selesai membaca buku pertama langsung melompat ke buku ketiga. Jadilah kedua buku tersebut menjadi penunggu rak/lemari bagian ‘belum dibaca’ sampai mendapat buku keduanya beberapa tahun kemudian.

6

Buku pertama dan kedua menyajikan sebuah tampilan artistik yang unik. Benar-benar mencerminkan buku itu dan kamu mendapat dan meresapi jiwanya. Tiba-tiba datang buku ketiga dengan tampilan cover yang sangat berbeda dari leluhurnya. Semangat setinggi langit diturunkan sampai ke tanah dan pembaca merespons “Ya sudahlah. Buku itu tentang isinya bukan sampulnya.” seperti kata pepatah “Jangan menilai buku hanya dari sampulnya” (masalah selera siapa yang bisa tebak?)

1-lembarannya-terpisah-pisah

Yang lebih buruk dari nuansa berbeda pada cover berseri adalah cover film. Setidaknya itu menurut saya. Coba tebak ketika film adaptasi novel dirilis apa yang akan datang? Benar. Sampul buku bertema filmnya.

Pada dasarnya, membaca adalah permainan imajinasi, otakmu berfungsi untuk membayangkan segalanya, termasuk rupa dan tampak setiap tokohnya. Dan tiba-tiba, sampul ini menyajikan rupa tokoh dengan memasang wajah pemeran tokoh itu dari filmnya. Merenggut kebebasan untuk membayangkan deskripsi yang disediakan penulis.

Hal lain yang membuat covel film menyebalkan adalah ketika tokoh dalam buku dideskripsikan sebagai remaja dan wajah yang tampil di cover adalah orang dewasa.

But this is business. Bisnis itu kejam dan kau harus melakukan hal inovatif untuk tetap bertahan. Dengan mengikuti trend film, penerbit bisa menarik mata dan minat seorang mundane dan muggle untuk membeli buku itu (saya salah satunya). Well done.

7

“Mataku sakit!” Kata seorang yang pusing melihat sebuah buku tebal dengan tulisan yang amat kecil. Well, bagi saya ini bukanlah masalah yang begitu besar. Penerbit pasti punya banyak pertimbangan untuk melakukan hal ini. Buku bahasa asalnya yang memang terlalu tebal dan pasti akan sangat mahal bagi pembaca apabila tidak dilakukan modifikasi. Well done, I Love You.

8

Yah.. Ini sih masalah orang mundane (baca : orang awam). Kalau kamu pecinta buku sejati maka 1000 halaman itu santapan sehari-hari!

DATANGLAH YANG PALING BURUK DARI SEGALANYA

JENG

JENG

JENG!

KITA SAMBUT NOMOR SEPULUH!

9

SEBAGUS DAN SEKEREN APAPUN BUKUNYA KALAU KAMU MALAS MEMBACA BUKU ITU TIDAK AKAN TERBACA!!!

Sekian Top 10 Book TurnOff versi Andi Itta. Ada hal lain yang membuat para readers malas membaca? Bagi-bagi yah, di kolom komentar…

Catatan Penting :

  • Tidak ada di antara buku-buku yang menjadi alat peraga postingan ini yang didiskriminasi. Setiap hal pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Semua hal itu wajar dan dapat diterima.
  • Isi dari blog post ini hanyalah pendapat, kita semua bisa berpendapat! Go Blogging!
  • Support penulis dan penerbit dengan membeli buku aslinya. Mereka bekerja keras dan kita sebagai penikmat patut bersyukur atas karya mereka.
  • Untuk desain grafis yang tidak merepotkan, kamu bisa main di Canva. Ada juga postinganku tentang Canva di RandomStuff – Saya dan Kamu yang Amatir Kini Bisa Desain Grafis!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s