IntroVenture – Delusi Keliling Dunia

Andi Itta'sFantasy

“Maka terjebaklah aku dalam khayal. di mana kebahagiaan bisa datang kapan saja tanpa upaya. Maka terjebaklah aku dalam delusi tak berujung. Berharap dunia ada dalam kuasaku yang kenyataannya hanya seorang makhluk kecil.”

Siapa yang tidak ingin keliling dunia? Terlepas dari perdebatan tak berujung tentang bumi ini bulat atau datar, dunia dipenuhi dengan tempat-tempat yang amat indah. Mereka menunggu kita untuk melakukan eksplorasi, menjelajahi setiap keunikan, mendengar cerita yang dunia ini bisa sampaikan, atau bahkan mencari tempat baru untuk menetap.

Hanya saja, keliling dunia itu tidak mudah. Komponen yang paling substansial yaitu uang, menciptakan sebuah tembok besar yang sangat sulit untuk dijangkau. Tidak adanya uang untuk keliling dunia menyebabkan seorang penghayal hanya bisa berandai-andai untuk kesenangan itu.

Pada suatu waktu, saya, yang bermimpi untuk keliling dunia memikirkan hal sederhana yang bisa membuat saya melihat pemandangan tempat-tempat indah dunia dengan gratis.

Tujuan wisata pertama yang saya kunjungi adalah Big Ben yang terletak di Istana Westminster, London. Bangunan ikonik yang terletak di pinggir sungai Thames. Landmark Inggris, dengan gaya arsitektur kebangkitan gothik. Desainernya, Edmund Beckett Denison dan George Airy, serta pembuatnya Edward John Dent adalah orang-orang brilian. Sayang sekali waktu saya mengunjungi Big Ben, Sungai Thames tidak mengalir, tidak ada arus sama sekali. Begitupun dengan Big Ben yang tidak bersuara, semua sepi senyap.

Tanpa buang-buang waktu, saya melanjutkan perjalanan ke daratan utama Eropa. Ada tiga destinasi wisata untuk dikunjungi. Di Paris, Perancis terdapat menara ikonik yang terkenal se-jagad raya. Menara Eiffel berdiri tinggi menjulang jauh lebih besar dari bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Adapun di Jerman, saya mengunjungi Branderburger Tor di Berlin. Sayang sekali Brandenburger Tor yang saya kunjungi memiliki pilar-pilar yang kasar dan bentuknya bagai tidak terawat.

Sekali lagi, saya tidak menunda-nunda waktu untuk langsung ke roma. Ternyata, memang banyak jalan menuju Roma. Pemandangan Colosseum membuat saya yakin bahwa Roma memang tidak dibangun dalam satu hari. Hanya saja saya agak sedih mendapati Colosseum yang agak buyar. Menyedihkan.

Saya meninggalkan Eropa dan melanjutkan ke Amerika. Tidak banyak yang perlu diceritakan. Di pesisir timur Amerika Serikat terdapat Patung Liberty yang permukaan seperti retak. Saya menunggu beberapa lama namun Patung Liberty tidak kunjung menjadi mulus seperti yang terlihat di film-film.

Sementara di Pesisir Barat Amerika Serikat, saya berkesempatan melihat Hollywood Sign. Sayang sekali tidak ada satupun aktor atau aktris yang saya temui. Hollywood terlihat amat sepi dan diam. Perjalanan berakhir di Australia. Menikmati keindahan Sidney, kota pinggir laut dengan landmark gedung teaternya. Sepanjang perjalanan, penampakan terindah adalah di Sidney.

Saya sangat senang bisa menyelesaikan perjalanan dalam satu hari. 3 benua berhasil dikunjungi. Saya sangat berterima kasih kepada Sponsor yang membuat ini bisa terjadi.

Thanks to Google Earth

Apa daya kalau tidak punya uang, Google Earth menjadi pelipur lara. Kamu melihat tempat-tempat menakjubkan dalam waktu singkat. Thanks Google Earth. Bermimpilah malam ini, wujudkan esok hari!!!

Ayo keliling dunia!!! di sini, gampang kok!

INTROVERT + ADVENTURE = INTROVENTURE

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s